TAK MAU DIGUSUR UMUR
30 Nov 2011 4 Komentar
in OPINI
Benarkah hanya pada masa muda orang bisa memulai segalanya? Kartini meninggal pada usia 24 tahun. Bayangkan, betapa mudanya ketika ia berangkat dengan ide-ide besar. Kemudian, pada awal abad ke-20, sejumlah organisasi yang namanya dimulai dengan Jong bermunculan. Hitung saja dari sejarah, berapa umur Muhammad Yamin atau Bahder Johan atau Dr. Wahidin atau Bung Karno waktu memulai sesuatu – yang kemudian menjadi tonggak sejarah.
Masa perang kemerdekaan juga menyediakan momentum yang bagus untuk anak-anak muda. Tahun 1946, Panglima Divisi Siliwangi adalah seorang pemuda bernama AH Nasution, umurnya 28 tahun. Aidit dan Nyoto memimpin PKI pada usia yang belum genap 20 tahun. Dan mereka berhasil membawa partai itu mencapai kejayaannya.
Tapi, dengarkan kata-kata Kong Hu Cu ini: “Pada umur 15, aku mengamalkan diri untuk belajar kebijaksanaan; pada umur 30 aku tumbuh lebih kuat dalam kebijaksanaan; pada umur 40 aku tak lagi punya rasa ragu; pada umur 60 tak ada sesuatu pun di atas bumi yang bisa mengguncangkanku; pada umur 70 aku dapat mengikuti imlak hatiku tanpa mengingkari hukum moral.”
Bagi kita yang merasa “belum menemukan apa-apa” adakah kata “terlambat” untuk menorehkan prestasi? Dewasa ini, kita mendengar banyak cerita tentang orang-orang yang meraih kesuksesan justru ketika mereka sudah berumur. Bukankah Susan Boyle mencapai popularitas justru pada umur 47?
METAMORFOSIS KAMUS BESAR BAHASA INDONESIA (KBBI) MENJADI KAMUS BAHASA INDONESIA (KBI)
08 Agu 2011 10 Komentar
in UNDUH KAMUS
Tanpa terasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sudah 23 tahun lebih berada di tengah-tengah kita. Selama kurun waktu itu KBBI telah mengalami perkembangan muatan lema, dari 62.000 pada edisi pertama (1998) menjadi 91.000 pada edisi keempat (2008). Hal ini menunjukkan bahwa KBBI selalu memutakhirkan kandungan lema-nya. Menurut catatan Pusat Bahasa, dari edisi pertama sampai edisi keempat, KBBI telah mengalami cetak ulang puluhan kali.
Pada bulan Oktober 2008, Pusat Bahasa meluncurkan Kamus Bahasa Indonesia (KBI). Dibandingkan dengan KBBI, KBI telah mengalami penyempurnaan definisi atau penjelasan lema/sublemanya, penambahan makna (akibat perkembangan pemakaian bahasa), perbaikan penulisan latin untuk nama tumbuhan dan hewan, serta perubahan urutan susunan sublema.
Untuk memudahkan download, saya memecah KBI per initial secara alfabetis. Semoga bermanfaat!
- A, silakan DOWNLOAD di sini
- B, silakan DOWNLOAD di sini
- C, silakan DOWNLOAD di sini
- D, silakan DOWNLOAD di sini
- E, silakan DOWNLOAD di sini
- F, silakan DOWNLOAD di sini
- G, silakan DOWNLOAD di sini
- H, silakan DOWNLOAD di sini
- I, silakan DOWNLOAD di sini
- J, silakan DOWNLOAD di sini
- K, silakan DOWNLOAD di sini
- L, silakan DOWNLOAD di sini
- M, silakan DOWNLOAD di sini
- N, silakan DOWNLOAD di sini
- O, silakan DOWNLOAD di sini
- P, silakan DOWNLOAD di sini
- Q, silakan DOWNLOAD di sini
- R, silakan DOWNLOAD di sini
- S, silakan DOWNLOAD di sini
- T, silakan DOWNLOAD di sini
- U, silakan DOWNLOAD di sini
- V, silakan DOWNLOAD di sini
- W, silakan DOWNLOAD di sini
- X, silakan DOWNLOAD di sini
- Y, silakan DOWNLOAD di sini
- Z, silakan DOWNLOAD di sini
KEKUASAAN DAN UANG
15 Jul 2011 6 Komentar
in OPINI
Dari manakah datangnya kekuasaan? Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita mesti balik bertanya: dahulu atau sekarang? Bila ada calon pejabat yang rajin sowan ke “orang tua” demi sebuah kekuasaan, itu mungkin terinspirasi cerita masa lalu.
Tersebutlah
dalam salah satu bagian Babad Tanah Jawi, kisah tentang Ki Pamanahan dan Ki Ageng Giring. Keduanya adalah sahabat erat bagai saudara. Ki Pamanahan tinggal di Mataram, yang waktu itu masih berupa dusun kecil. Ki Ageng Giring tinggal di Gunung Kidul. Ia penyadap nira.
Suatu pagi, Ki Ageng Giring memeriksa kebunnya. Di sebuah pohon kelapa yang biasanya tak berbuah, tampak sebutir kelapa muda. Ia heran. Dan ia terkejut ketika terdengar suara gaib: “Ki Ageng Giring, ketahuilah. Siapa yang meminum kelapa muda ini sampai habis, akan menurunkan raja agung yang memerintah seluruh Jawa”.
Ki Ageng memetik buah tunggal itu, lalu membawanya pulang. Di rumah, dipangkasnya sabutnya, tinggal meminum airnya. Tapi hari masih pagi, dan Ki Ageng belum haus, maka ia menyimpan kelapa itu di dapur. Ia ke hutan dulu, menebangi pohon dan membuka semak.
Tak lama kemudian, Ki Pamanahan tiba di rumah Ki Ageng. Terdesak haus oleh perjalanan jauh, ia langsung mencari minuman. Tapi belum ada nira sepagi itu. Ketika ditemukannya sebutir kelapa muda yang siap di dapur, ia langsung melubanginya dan menenggak airnya sampai habis. Ki Ageng tidak marah oleh ulah sahabatnya, ia menganggap itulah takdir. Syahdan, putra pertama Ki Pamanahan yang kemudian menjadi raja Mataram pertama, Panembahan Senopati.
Cerita tentang buah kelapa itu mungkin direka untuk mengukuhkan legitimasi kekuasaan raja-raja Mataram. Pada suatu zaman ketika demokrasi belum lahir, pemilihan tentang siapa yang berkuasa perlu dikukuhkan oleh suara gaib. Kekuasaan atau kedudukan, dengan begitu hampir mendekati sejenis kesaktian atau sesuatu yang melekat pada pribadi. Maka raja zalim atau bijaksana, bergantung pada watak pribagi sang raja.
Pada masa lahirnya demokrasi, slogan “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat” sangat dijunjung dan dihargai. Jabatan atau kekuasaan akan dipandang sebagai amanah dan tanggung jawab karena lahir dari hati tulus rakyat yang telah memilih.
Namun, pada masa kini demokrasi tidak lagi “dihargai”, tapi justru “dibeli”. Uang menjadi senjata ampuh untuk meraih kekuasaan. Jabatan adalah semacam gengsi yang bisa dijual dan dibeli.
MENGGUGAT HAKIKAT PENDIDIKAN
17 Mei 2010 2 Komentar
in OPINI
Singosari pada pertengahan abad ke-13. Seorang pemuda bersimpuh di depan pintu padepokan Ki Sidik Danusara, sore itu. Dilihat dari wajah letih dan pakaiannya, pemuda itu dari kalangan rakyat jelata yang datang dari tempat yang jauh.
Para cantrik memandang dengan remeh ke arah pemuda. Namun, kebetulan Ki Sidik sedang berada di pendopo, beliau menyuruh si pemuda menghadap. Si pemuda – yang memperkenalkan dirinya dengan nama Nurseta – pun menyatakan keinginannya untuk mereguk ilmu di padepokan. Berguru. Trenyuh oleh keadaan dan tertarik oleh semangat si pemuda, Ki Sidik pun menerimanya sebagai murid. Sejak itulah Nurseta berguru, mulai dari ilmu kadigdayan, agama, sampai susastra. Tujuh tahun kemudian, si pemuda “turun gunung” dengan berbekal aneka ilmu dari Ki Sidik. Ia menjadi pendekar yang tampan, sakti mandraguna, dan getol membasmi kejahatan. More
MENGEMBALIKAN “ROH” PENDIDIKAN
22 Apr 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in OPINI
Driyarkara pernah menyatakan bahwa hakikat pendidikan adalah “memanusiakan manusia”. Artinya, lewat pendidikan itu setiap peserta didik digembleng agar dapat menjadi “manusia”. Dan Plato bilang bahwa manusia adalah “binatang yang berakal budi’. Manusia dapat menjadi “manusia” kalau ia mempunyai akal dan mempunyai budi. Filosofi ini berkembang pada abad ke-21 dengan rumusan tentang multi-kecerdasan yang mesti dimiliki oleh seorang manusia, yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritual. Roh utama pendidikan adalah membangun individu yang cerdas, terampil, dan berbudi pekerti luhur.
Namun, yang terjadi sekarang ini adalah penjungkirbalikan arah pendidikan. Sekolah hanya mengejar target nilai Ujian Nasional (UN) sehingga mengesampingkan misi “pemanusiaan manusia” yang menjadi roh pendidikan itu sendiri. Sekolah hanya bertujuan meluluskan siswa sehingga menafikan proses pembelajaran. Dampaknya adalah lahirnya budaya pragmatisme dan serba-instan dalam praktik pendidikan. Karena tujuan akhir adalah tingginya tingkat kelulusan siswa, maka sekolah lebih memilih cara-cara yang pragmatis. “Apa pun caranya, yang penting adalah hasilnya”. Demikianlah motto yang dipegang. More
1001 SIASAT HADAPI UJIAN
13 Feb 2009 6 Komentar
in OPINI
Sejak pemerintah mencanangkan Ujian Nasional sebagai faktor penentu dalam kelulusan siswa, banyak cara yang dilakukan untuk menyiasati kebijakan tersebut. Tingkat kelulusan yang tinggi merupakan sebuah keniscayaan yang tak dapat ditawar lagi demi “harga diri” sekolah. Maka, setiap stakeholder sekolah harus bahu-membahu demi mencapai nilai ujian yang tinggi. Dan, segala cara pun dihalalkan.
Segala cara dihalalkan? Ya! Segala cara dihalalkan! Kita tahu betapa hebatnya tekanan yang bernama UN ini. Bukan hanya siswa yang stress, namun guru, orang tua, kepala sekolah, kepala dinas, bahkan bupati pun ikut stress. Dan kita tahu, bahwa dalam keadaan tertekan, setiap orang bisa melakukan apa saja. Yang terjadi adalah kecurangan-kecurangan, baik yang dilakukan individu maupun kolektif.
Saya mencatat banyak sekali trik yang dilakukan untuk menggapai nilai UN nan tinggi itu. More
Merokok itu Haram?
30 Jan 2009 4 Komentar
in OPINI
Forum Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III akhirnya mengeluarkan sebuah fatwa penting tentang merokok. Diputuskan bahwa merokok hukumnya “DILARANG”, yaitu antara haram dan makruh. Pimpinan Itjima’ Ulama Komisi Fatwa, Prof Dr HM Amin Suma MA mengatakan bahwa merokok itu haram untuk anak-anak di bawah umur, haram untuk ibu hamil, dan haram jika dilakukan di tempat umum.
Bagi yang antirokok, fatwa ini menjadi senjata ampuh dalam perjuangan dan cita-cita luhur mereka: membasmi rokok dari bumi ini. Merokok, apa pun alasannya, memang lebih banyak ruginya daripada untungnya. Dari segi kesehatan, kita semua tahu, nikotin itu berbahaya bagi tubuh manusia. Dari segi ekonomi, merokok itu memang pemborosan. Bahwa merokok itu boros, Wong Samin percaya. Harga sebungkus rokok saat ini Rp8.000. Kalau seorang perokok menghabiskan sebungkus rokok per hari, berarti per bulan dia membuang percuma Rp240.000! Dalam satu tahun berarti Rp2.880.000!!! Itu baru sebungkus sehari, lalu berapa rupiah biaya yang dikeluarkan oleh seorang perokok berat yang biasa “mengonsumsi” 4-5 bungkus per hari? Menurut data WHO, Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbesar ketiga di dunia, yakni 146 juta orang! More
Berguru kepada Alam
19 Jan 2009 17 Komentar
in Percikan
Tak ada guru yang lebih baik dari alam semesta ini. Segala sesuatunya selalu memberi pelajaran yang berharga bagi kita. Karena alam adalah guru yang sejati. Karena dari alamlah kita bisa belajar tentang segalanya.
Kita belajar tentang kerendahan hati dari air yang mengalir. Tak ada zat yang lebih lembut daripada air. Namun, tak ada benda sekeras apa pun yang tak dapat dihancurkannya.
Kita belajar tentang kejujuran dari beningnya embun di pagi hari. Demikian jernih dan terang, tak ada sesuatu yang tersembunyi. Sebab segala sesuatu itu transparan adanya. Kebusukan atau keculasan, akan ketahuan karena hanya bertabir waktu. More